Header Ads

Minuman Bir Ini Jadi Kuliner Khas Tangerang Selatan

BIR PLETOK TANGSEL -- Djaeni bin Nursin (paling kanan) menjaga kuliner khas Tangsel yaitu Bir Pletok. Menurutnya kuliner ini khas perpaduan Betawi dan Sunda.
WISATAKITA.CO.IN,  TANGSEL – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dikenal memiliki budaya yang khas yakni Betawi dan Sunda. Perpaduan yang lekat itu menjadikan Kota Tangsel kaya akan kuliner. Salah satu kuliner yang legendaris yaitu Bir Pletok.
Meski telah ada sejak era penjajahan, Bir Pletok minuman khas Betawi ini terancam hilang. Penjual minuman berbahan dasar rempah-rempah seperti kayu secang, jahe merah, secang, serai, lada hitam, dan kayu manis ini pun kian punah. Salah satu penjual yang mempertahankan warisan budaya Betawi ini adalah Djaeni bin Nursin. 
Dia mengatakan, usaha Bir Pletok  ini merupakan usaha turun temurun dari kakek buyutnya. Bahkan usaha ini telah dilakoni keluarganya sejak zaman penjajahan Belanda. Menurutnya, usaha ini sempat terputus di Ayahnya, dan dia kini yang meneruskan untuk mengembangkan usaha yang pernah dirintis pendahulunya itu.
Selain untuk melestarikan budaya, pria yang akrab disapa Bang Jay ini juga termotivasi untuk membuat minuman berbahan alami sebagai alternatiif atas maraknya berbagai jenis minuman berbahan kimia yang justru berbahaya bagi kesehatan.
“Nah dari situlah, bahwa dengan banyaknya makanan itu (berbahan kimia-red), maka perlulah satu minuman yang perlu kita dorong agar diterima masyarakat luas. Walaupun ini berangkat dari kebiasaan atau minuman kearifan lokal khas Betawi, tapi yang minum sudah lintas etnis, karena memang fungsinya sebagai minuman kesehatan atau bisa dikatakan sebagai jamu,” katanya saat ditemui disela-sela acara bazar di Lapangan Kecamatan Pondok Aren belum lama ini.
Menurutnya, minuman yang diberi merk “Bang Pletok” ini bukanlah minuman beralkohol tetapi minuman kesehatan yang dilengkapi sertifikasi Dinkes PIRT dan Halal MUI. Karena berbahan dasar alami itulah, sebagai produsen Dia merasa nyaman untuk menyampaikan pesan bahwa ini adalah minuman kesehatan. 
“Karena minuman ini tanpa zat pengawet, dari hasil uji laboratorium mampu bertahan tiga pekan hingga satu bulan dalam kondisi suhu rendah,” ujarnya. Bir Pletok umumnya dihidangkan dalam keadaan hangat atau panas. Tapi uniknya, para konsumennya justru menyukai Bir Pletok  “Bang Pletok” disajikan dalam kondisi dingin. 
Bang Jay menjelaskan, dari hasil survey kecil-kecilan yang dia lakukan sendiri menjelaskan bahwa, dari 100 orang menyatakan 70 persen konsumen lebih suka penyajian Bir Pletok  dalam kondisi dingin, walau diminum dalam kondisi dingin atau ‘semriwing’ di mulut tetapi hangat di badan.
“Tapi untuk memaksimalkan fungsi Bir Pletok  sebagai obat flu atau pilek disarankan diminum dalam kondisi hangat,” jelasnya. Bang Jay mengungkapkan, usaha yang dilakoninya kini sudah berjalan tujuh tahun, pada awalnya dijual dengan kemasan sangat sederhana, saat ini Bir Pletok  Bang Pletok sudah dijual dalam kemasan botol cantik dengan harga Rp10 ribu per 250 ml dan tersedia di outlet, restoran, warung-warung yang tersebar di tujuh kecamatan di Kota Tangerang Selatan.
“Buat saya bersyukur, karena ada pertumbuhan yang cukup signifikan. Produksi kita baru mampu 700 hingga 1.000 botol per bulan. Itu juga saya belum bisa mengcover permintaan dari ritel, modern ritel bahkan hotel-hotel khusus, juga cafĂ© yang menjadi pemasaran saya,” ungkapnya.
Untuk promosi, Bang Jaya juga banyak disupport oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui bazar- bazar atau pameran juga banyak membangun networking dengan komunitas-komunitas yang ada di Tangsel.
“Selain menjadi welcome drink (minuman selamat datang –red) dan salah satu produk ikon kearifan lokal Tangsel. Saya berharap banyak produsen atau wirausaha yang mengembangkan minuman ini.
Ia  yakin segala sesuatu diawali dengan kecintaan, dengan istiqomah, maka salah satu kearifan lokal budaya Betawi Bir Pletok  dapat diterima di masyarakat Kota Tangsel. 
Repoter | Sucipto
Editor | Karnoto




BACA JUGA:

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.